Darurat! Ini waktunya serius hadapi musim hujan. Banjir yang melumpuhkan Jakarta dan kawasan sekitarnya awal tahun 2020 memang cukup mengejutkan. Selain minim peringatan dini, warga pun mirip tak menduga hujan yang memang ditunggu-tunggu kehadirannya malah berbuah bencana. Saat para pemangku kepentingan masih berusaha mencari penyebab dan solusi terampuh mengatasi banjir, kita selaku warga pasti tak bisa berdiam diri begitu saja. Puncak ekspresi dominan hujan yang telah di depan mata, mau tak ingin menuntut kita untuk siap siaga keadaan darurat.
Temukan keperluan banjir dan listrik padam di sini.

World Economic Forum menyebutkan, bahwa Jakarta menempati urutan pertama dari 11 kota yang akan tenggelam dan menghilang dikarenakan penggunaan air tanah berlebihan. Ternyata dampaknya benar-benar sudah dirasakan. Tanah Jakarta mengalami perubahan tekanan dan volume hingga turun 6,7 inci (+ 17 cm) per tahun. Mengatasi hal ini, pemerintah telah memutuskan penyelesaian jangka panjang, ialah penghematan beban tanah dengan memindahkan ibukota negara ke luar Pulau Jawa.
Namun sebagai warga, kita pun tak bisa berleha-leha menunggu planning tersebut terwujud 10 tahun dari sekarang. Penduduk dibutuhkan melaksanakan sebuah pergantian pola hidup, dimana sebisa mungkin jangan memproduksi sampah. Caranya bisa dengan mengolah kembali sampah plastik dan rumah tangga sebagai barang keperluan lain, agar berdaya-guna lebih lama. Anda pun dapat mendukung gerakan belanja tanpa plastik, contohnya. Sekaligus mengajak sebanyak-banyaknya sahabat dan kerabat untuk turut mempraktikkan hal tersebut.
Serius hadapi ekspresi dominan hujan tak berhenti hingga di situ. Lengkapi rumah dengan kebutuhan siaga banjir, siaga listrik padam, bahkan untuk mengungsi tenteram. Bagaimana pun juga, pemberian keluarga harus menjadi nomor satu, bahkan saat banjir sudah berlalu. Pertimbangkan berbelanja alat bersih-higienis pasca banjir yang mumpuni untuk mengusir semua kotoran sehingga tak menjadi sarang penyakit.