#RuparupaExpert – Pengamat Otomotif

Contents

  • Ridwan Hanif Rahmadi
    • Pendidikan
  • Tentang Ridwan Hanif Rahmadi
    • Bagaimana tren dunia otomotif di Indonesia tahun ini?
    • Bagaimana pengaruh harga mobil yang variatif dengan daya beli masyarakat?
    • Bagaimana dengan imbas kemajuan otomotif dengan kemacetan di kota besar?
    • Ridwan siap membantu Anda!

Ridwan Hanif Rahmadi


Founder Autonetmagz.com


Pendidikan



  • Sekolah Menengan Atas 46 Jakarta

  • S1 Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya – Universitas Indonesia


Tentang Ridwan Hanif Rahmadi


Ridwan Hanif Rahmadi, pria kelahiran Jakarta 29 tahun silam ini tak menduga jikalau kesannya akan menggeluti dunia otomotif. Ridwan, begitu biasa dia disapa pertama kali terjun ke dunia bisnis otomotif 12 tahun lalu dengan menciptakan situs web perjuangan rental mobil.


Ia memang jago di bidang IT semenjak Sekolah Menengan Atas, dan karenanya membuat sebuah website rental mobil, dan bekerja sama dengan pemilik rental kendaraan beroda empat. Hingga jadinya orang tuanya melihat bisnisnya semakin meningkat dan mulai memodali Ridwan untuk berbelanja kendaraan beroda empat, satu demi satu. Dan alasannya kesibukannya ketika ini, perjuangan rental mobil itu diberikan kepada orang tuanya.


Ketertarikan seorang Ridwan Hanif ke dalam dunia otomotif berawal dari hobinya bermain game kendaraan beroda empat balap. Kemudian makin mengulik lebih dalam lagi perihal dunia otomotif, Ia pernah membuat sebuat website otomotif dalam Bahasa Inggris, tak usang lalu situs web down.


Tak mengalah begitu saja, dia kembali membuat portal gosip otomotif lagi, kali ini berbahasa Indonesia, Autonetmagz.com. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan supaya info bisa dirasakan oleh siapa saja, beliau pun menciptakan Autonetmagz.net untuk portal berbahasa Inggris.


Bagaimana tren dunia otomotif di Indonesia tahun ini?


Untuk tren ketika ini, orang lebih bahagia dengan SUV. Kalau dahulu Honda Jazz atau mobil hatchback banyak berseliweran, sekarang orang banyak beralih ke HRV. Atau jika dahulu mobil sedan mirip Corola Altis atau Honda Civic jadi pilihan, sekarang orang lebih memilih XTrail dan CRV.


Belum lagi kendaraan beroda empat besar mirip Pajero Sport dan Fortuner yang menjamur. Untuk segmen MPV trennya stagnan, tapi untuk jenis SUV, trennya terus naik sejak bertahun-tahun terakhir.


Bagaimana dampak harga kendaraan beroda empat yang variatif dengan daya beli penduduk ?


Pengaruhnya besar sekali, untuk sasaran MPV, Avanza harganya telah Rp 200 jutaan, cukup mahal. Lalu keluar tipe Calya dan Sigra di harga Rp 130 – 150 jutaan. Orang yang tadinya ingin beli Avanza kemahalan, ada alternatif produk lain yang lebih murah tapi kualitasnya nggak murahan. Penjualan Calya condong stabil sekitar 8000 – 9000 unit/bulan. Kalau dilihat rata-rata, tingkat pembeliannya tetap tinggi.


Bagaimana dengan efek pertumbuhan otomotif dengan kemacetan di kota besar?


Kita tidak bisa mengatakan ihwal kemajuan kendaraan dengan kemacetan. Di satu segi, kemajuan kendaraan itu harus, alasannya adalah industri otomotif itu industri besar, dan mau nggak mau perekonomian harus jalan.


Kalau mau dikelola seperti Singapura misalnya, pabrik akan banyak yang tutup dan balasannya negara kita jadi importir saja. Padahal jikalau pemasaran tinggi, didukung pemerintah, volume bikinan besar, pabrikan luar banyak yang kepincut untuk berinvestasi di sini. Dan karenanya dibuat di sini, kemudian sisanya di ekspor, mirip Toyota, Daihatsu dan Mitsubishi yang ketika ini telah ekspor.


Nah tinggal kita mau jadi importir atau eksportir? Kalau mau jadi eksportir, bikinan mesti besar. Kalau dibatasi untuk menghemat kemacetan, itu salah. Harusnya yang dibatasi yaitu abad pakai kendaraan, jadi orang akan cenderung beli kendaraan beroda empat baru.


Padahal orang di luar kota besar mirip Jakarta, masih cenderung susah untuk membeli kendaraan gres, jadi jikalau mereka bisa mampu kendaraan beroda empat ex (bekas) Jakarta yang dilempar ke luar kota, mereka akan seneng banget pasti.


Misalnya di Papua, mereka mampu mampu mobil second Avanza harga Rp 20-30 juta, mereka pasti bahagia sekali. Di satu segi mobilitas mereka jadi lebih mudah, perekonomian akan lebih singkat sebab transportasi makin baik. Makanya bila membuat jalan itu bagus, tetapi kalau membatasi mobil untuk meminimalisir kemacetan, itu bukan penyelesaian.


Solusinya yaitu membatasi periode pakai kendaraan di kota besar, jika nggak rela di scrap, bisa dijual ke tempat. Keberadaan mobil tua di kota besar juga mesti di stop, kecuali kalau pemilik mau bayar pajak lebih untuk kolektor.



tanya jawab dengan pengamat otomotif



Ridwan siap membantu Anda!


Apakah Anda mempunyai masalah dengan kendaraan? Ingin berbelanja kendaraan namun masih bingung memilih opsi? Atau ingin memaksimalkan fungsi kendaraan dan melakukan modifikasi?


Tanyakan terhadap Ridwan Hanif, founder Autonetmags.com kini juga!


Kumpulan Jawaban Ridwan Hanif



Tanaman Artificial Untuk Mempercantik Rumah

Mempunyai rumah yang bagus dan indah tentu saja menjadi dambaan setiap orang. Berbagai macam cara dilaksanakan untuk memperindah rumah baik ...